Saya sering membayangkan periode-periode dalam Perang Mu’tah sebagai gambaran sebuah film kolosal, penuh tokoh-tokoh heroik dengan kejadian-kejadian yang spektakular. Zaid bin Haritsah bertempur dengan gagah berani, mengangkat tinggi-tinggi panji-panji, sekian banyak tombak yang menancap ditubuhnya. Dia terus maju memimpin, meski tombak dan panah mengucurkan darahnya. Akhirnya, panglima kaum Muslimin Zaid bin Haritsah jatuh juga ke tanah.
Panji-panji Rasulullah segera diambil oleh panglima kedua, Ja’far bin Abi Thalib. Dia bertempur dengan sangat berani. Memimpin pasukan yang hanya berjumlah ribuan, melawan tentara Romawi yang berhimpun lebih dari 200.000 orang. Tangan kanan Ja’far bin Abi Thalib, tertebas pedang. Kini tangan kirinya yang memegang panji-panji sambil terus memimpin pasukan. Lalu tangan kirinya pun, terpotong oleh lawan. Dengan pangkal lengannya kini Ja’far mempertahankan bendera. Akhirnya, Ja’far menemui syahidnya dengan cara mendekap panji dengan pangkal lengkap yang sudah tak bertangan.










